Kamis, 14 Agustus 2014

Sejarah Nama Indonesia dan Nusantara




IND-ONE-SIA
ONE, nomor satu. Bersatu dan Menyatu.

      Memang ada - ada saja ulah orang Indonesia. Kreatifitas yang tiada batas mampu membuat orang lain bergumam dan mengatakan 'iya, ya?!' Kebetulan atau kesengajaan, IND-ONE-SIA penggalan kata yang booming di tahun 2014 ini sedikit unik dilafalkan. Tidak ada yang peduli siapa yang pertama kali membuatnya atau menjadikannya trend. Tapi yang jelas banyak juga yang menggunakannya sebagai abal-abal untuk membanggakan diri di hadapan bangsa lain. Kece juga, kan?

      Boleh saja jika IND-ONE-SIA tidak diketahui pencetusnya, tapi apa kata 'Indonesia' sendiri tidak ada yang ingin tahu siapa yang pertama kali menyebutnya?

     Catatan masa lalu menceritakan bahwa Negara Indonesia sendiri dahulunya memiliki sebutan yang beraneka. Bangsa Tiongkok menyebut kawasan ini dengan "Nan Hai" (Kepulauan Laut Selatan), sementara Bangsa Arab menyebutnya dengan "Jazirah al Jawi" (Kepulauan Jawa). Ada juga, menurut catatan kuno Bangsa India menamai kawasan tersebut dengan sebutan "Dwipantara" (Kepulauan Tanah Seberang).

     Pada masa pendudukan Belanda, mereka menamai kawasan tersebut dengan nama "Nederlandsch Indie" yang berarti Hindia Belanda sebagai bukti bawa tempat itu telah berada di bawah jajahan mereka. Tahun 1942, Pemerintah Jepang memakai istilah "To-Indo" (Kepulauan Timur) untuk menyebut Negeri Sejuta Pulau ini.

      Lantas dari manakah kata 'Indonesia' berawal?

     Sekitar tahun 1840-an di daerah yang sekarang disebut Singapura, terbit majalah ilmiah tahunan, JIAEA (Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia). Dalam terbitannya tahun 1850, seorang Jurnalis berdarah Inggris bernama George Samuel Windson Earl menuliskan bahwa sudah saatnya kepulauan hindia memiliki nama sebutan yang resmi atau khas. Ia juga mengajukan dua usulan nama yakni : Indunesia atau Malayunesia. Dari keduanya, Earl lebih menyukai nama Malayunesi karena dipandang lebih pas untuk ras Melayu yang tinggal di dalamnya ketimbang Indunesia. Namun pada majalah yang terbit tahun itu juga, James Richardson Logan memungut nama Indunesia yang telah dibuang oleh Earl dan mengganti huruf 'u' di dalamnya dengan huruf 'o'. Awal abad ke-19, Adolf Bastian, seorang profesor asal Eropa mempopulerkan istilah 'Indonesia' dengan cara mencantumkannya ke dalam beberapa buku karangannya. 

   Pribumi yang mula-mula menggunaka istilah 'Indonesia' adalah Ki Hajar Dewantara. Ketika dibuang ke Belanda tahun 1913, beliau mendidirkan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

    Menurut bahasa Yunani, kata 'Indonesia' sendiri berasal dari kata 'Indus' yang berkonotasi Hindia dan 'Nesos' yang bermakna kepulauan. Earl menggunakan kata Nesos adalah karena ia menduga artinya sama dengan 'Nusa' (salah satu kata dalam bahasa Sanskerta), yakni sama - sama berarti kepulauan. So, kalau Nusantara? Beda lagi sejarahnya. 

    Ernest F. Eugene, cucu dari adik Dhouwes Dekker tahun 1920-an mengusulkan nama tersebut serta membuatnya bangkit dari tidurnya selama ratusan tahun. Ya! 'Nusantara' pertama kali diucapkan oleh Gajah Mada pada sumpahnya saat diangkat menjadi patih amungkubumi di Majapahit. Kata tersebut digunakan untuk menyebut pulau-pulau lain selain Jawa. Namun yang dimaksud 'Nusantara' oleh Eugene ini adalah kata 'Nusa' (dalam bahasa Sanskerta) yang artinya pulau dan kata 'Antara' (dalam bahasa Melayu) yang berarti sekat (merekat). Atau juga dengan kata lain Nusantara berarti Pemersatu Pulau.

    Kebetulan atau kesengajaan, ya, sejarah nama Indonesia dan Nusantara di atas dari segi bahasa dengan penggalan kata IND-ONE-SIA?